Minggu, 10 Februari 2013

Kiper Indonesia yang Pernah Menahan Tendangan Pinalti Pele

Ronny Pasla kiper Indonesia (PSSI) legendaris kelahiran Medan, 15 April 1947. Dia berkiprah sebagai kiper tim nasional Indonesia tahun 1966 sampai 1985. Peraih Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972) dan Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974), itu memulai karir sepak bolanya dari Medan.
Sebenarnya, Ronny lebih awal meminati olahraga tennis sampai sempat meraih juara pada Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967. Namun ayahnya, Felix Pasla menyarankannya ke sepakbola. Jadilah dia andalan di klub Dinamo, Medan, Bintang Utara, Medan dan PSMS Medan. Kemudian hijrah ke Persija Jakarta dan Indonesia Muda, Jakarta. Selama berkiprah di PSMS, Ronny dan rakan-rekannya meraih prestasi sebagai Juara Piala Suratin (1967) dan Juara Nasional (1967).

Kiprahnya sebagai penjaga gawang andalan Tim Nasional Indonesia (PSSI) juga meraih prestasi sebagai Juara Piala Agakhan di Bangladesh (1967), Juara Merdeka Games (1967), Peringkat III Saigon Cup (1970) dan Juara Pesta Sukan Singapura (1972).

Atas prestasinya yang gemilang sebagai kipper PSMS, Ronny berdarah Manado yang dijuluki Macan Tutul bertinggi badan 183 cm itu mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967). Kiprahnya di sepakbola dan Timnas PSSI sebagai kiper andalan sejak 1966 hingga pensiun 1985 dalam usia 38 tahun dianugerahi Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972), Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974).

Selama karir sebagai kiper tentu banyak pengalaman Ronny yang amat berkesan. Salah satu di antaranya, tatkala Timnas Brazil yang diperkuat pesepak bola legendaris Pele, tur ke Asia termasuk Indonesia pada 1972. Dalam laga Timnas Indonesia dan Brazil itu Ronny berhasil menahan eksekusi penalti Pele, kendati Indonesia akhirnya kalah 1-2.

Setelah pensiun dari dunia sepak bola pada usia 40 tahun di Indonesia Muda (IM), Jakarta, Ronny lebih banyak menggumuli olahraga tennis lapangan sebagai pelatih. Bahkan dia memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.


Tambahan

Indonesia memiliki sejumlah penjaga gawang berbakat dengan torehan prestasi internasional. Berikut 5 kiper legendaris Tim Merah-Putih menurut pandangan Wirawiri.net:
1. Maulwi Saelan
Maulwi Saelan, sejarah tampil di Olimpiade.

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1928, Maulwi Saelan adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Tanah Air. Ia salah satu saksi hidup saat timnas berlaga di Olimpiade 1956 Melbourne, Australia. Langkah Tim Merah-Putih terhenti di perempat final melawan raksasa beruang merah, Uni-Soviet. Pertandingan ini berjalan dramaris. Skor 0-0, meskipun sudah ada perpanjangan waktu 2×15 menit.
Kala itu aturannya jika pertandingan berakhir seri maka pertandingan harus diulang sehari sesudahnya. Pada laga ulangan Indonesia menyerah 0-4. Selain, menjadi pemain timnas, Maulwi juga sempat menjadi Ketua Umum PSSI periode tahun 1964-1968.


2. Ronny Pasla
Ronny Paslah, tahan tendangan penalti Pele.

Kiper kelahiran Medan, 15 April 1947 adalah kiper Indonesia yang berkiprah sekitar tahun 1960-an hingga awal 1970.  Ia punya  julukan Macan Tutul. Dengan tinggi badan 183 cm, Ronny ketika masih aktif bermain sangat unggul dalam antisipasi bola-bola atas. Kariernya panjang di Tim Garuda, hampir tujuh tahun dirinya menjadi penjaga gawang utama di timnas.
Saat Timnas Brasil melakoni tur ke Asia pada 1972, Tim Samba yang saat itu diperkuat pesepak bola legendaris dunia Pele  singgah ke Indonesia. Dalam laga persahabatan tersebut Indonesia kalah 1-2, tapi tetap menjadi momen terindah bagi Ronny, karena berhasil menahan eksekusi penalti Pele. Prestasi yang dicetak Ronny di timnas: juara Piala Agakhan di Bangladesh (1967), juara Merdeka Games (1967), peringkat III Saigon Cup (1970), serta kampiun Pesta Sukan Singapura (1972).
3. Yudo Hadianto
Yudo Hadianto, pengalaman jajal klub-klub elite dunia.

Menahan serbuan pemain-pemain klub luar negeri semisal Leeds United asal Inggris, Benfica Portugal, dan Dynamo Moskwa dari Rusia, adalah salah satu pengalaman paling berkesan bagi Yudo Hadianto saat masih aktif menjadi penjaga gawang Indonesia. Di era Yudo, klub-klub luar negeri memang banyak yang menyambangi Indonesia.
Yudo adalah salah satu penjaga gawang legendaris yang dimiliki negeri ini. Pecinta sepakbola pada 1960 hingga 1970-an pasti mengenal sosok kerempeng khas Yudo. Saat masih berjaya, Yudo dikenal sebagai penjaga gawang yang tenang tapi tetap tangkas menyambut datangnya bola.
Kiprah bersama UMS pula yang membawa Yudo masuk skuad Merah Putih. Kala itu, pelatih asing Tony Pogacnik yang menangangi timnas PSSI memanggil Yudo untuk masuk timnas yunior pada 1961. Yudo pun tampil di Kejuaraan yunior Asia. Selanjutnya, status kiper timnas selalu di sandang Yudo. Ia tampil menjaga gawang timnas pada sederet ajang internasional. Seperti misalnya juara Merdeka Games (1962, 1969, 1974), King’s Cup Thailand (1978),  Aga Khan Cup  Bangladesh (1978).
4. Eddy Harto
Eddy Harto adalah kunci kemenangan Tim Merah-Putih di SEA Games 1991. Eddy pula yang membuat hati para pemain Indonesia, di antaranya Maman Suryaman, Widodo C. Putro, Ferril Raymond Hattu, Robby Darwis, Aji Santoso, dan Bambang Nurdiansyah, berbunga-bunga karena menjadi pahlawan di saat adu penalti.
Sebelum meraih medali emas, Eddy Harto dkk. melibas Malaysia 2-0, menyikat Vietnam 1-0, menang atas Filipina 2-1, menyingkirkan Singapura 4-2 di semifinal (diperkuat David Lee dan Fandy Ahmad) melalui babak adu penalti, dan mempermalukan Thailand 4-3 di final (diperkuat Natee Thongsookkaew dan Worawoot Srimaka) juga melalui babak adu penalti.



5. Hermansyah
Hermansyah, bakat diasah Barbatana.

Pada era 80-an nama Hermansyah begitu dikenal. Kala itu, seolah olah hanya dialah penjaga gawang yang dimiliki Indonesia. Maklum, tiap kali Tim Merah-Putih bertanding, bisa dipastikan Hermansyah akan berdiri di bawah mistar. Itu terjadi di era 1983 hingga awal 1990.
Saat Hermansyah menjadi kiper utama timnas, Indonesia nyaris bisa berlaga di Piala Dunia 1986 Meksiko. Sayang, di partai penentuan babak akhir kualifikasi, Indonesia yang menjadi juara grup 3 B kalah dari Korsel yang juara grup 3 A. Bermain di Jakarta Timnas Merah Putih kalah 1-3 dan saat melawat ke Korsel Indonesia kalah 2-0.
Hermansyah membela klub Mastrans Bandung Raya, dan ikut memberikan gelar juara Liga Dunhill 1995 bagi klubnya. dikenal sebagai kiper tangguh, dan spesialis pemblok penalti. Soal urusan penalti Hermansyah  sempat dilatih oleh pelatih kiper legendaris asal Brasil, Barbatana.



Euro 2020 Akan Dilangsungkan di 13 Kota


 UEFA secara resmi mengonfirmasikan bahwa gelaran Euro 2020 nanti akan digelar di 13 kota. Sedangkan partai semifinal dan final akan dimainkan di lokasi yang sama.

Sebelumnya, sejumlah negara telah sukses menjadi tuan rumah bersama di ajang Piala Eropa. Polandia dan Ukraina saling bekerja sama tahun lalu, sedangkan Belgia dan Belanda menggelarnya pada tahun 2000 silam. Kini, UEFA telah menyiapkan format baru. Sebanyak 13 negara dipastikan terlibat pada tahun 2020 nanti. Nantinya, hanya akan ada satu venue saja yang akan digunakan di tiap-tiap negara.

Federasi Sepakbola Inggris (FA) pun akan turut serta di ajang tersebut. Mereka nanti akan mencalonkan Wembley Stadium sebagai venue untuk menggelar pertandingan empat besar dan partai final. Selain kota London, Roma, Berlin, Madrid dan Istanbul juga disebut-sebut akan berebut hak untuk menggelar laga pamungkas tersebut.

Jika gagal menjadikan Wembley sebagai venue semifinal dan final, maka FA akan mengajukannya untuk menjadi arena pertandingan fase grup dan perempat final saja. Di kategori ini, yang bakal menjadi saingan adalah Cardiff, Dublin dan Glasgow.

Sementara itu, UEFA telah menetapkan syarat bagi pihak-pihak yang ingin mengajukan diri untuk menggelar laga EURO tersebut. Stadion untuk semifinal dan final harus memiliki kapasitas minimum 70.000 penonton, 60.000 untuk perempat final, dan 50.000 untuk babak 16 besar serta fase grup. Mereka memberi pengecualian paling banyak dua stadion dengan kapasitas minimum 30.000 penonton guna ikut ambil bagian, tapi hanya terbatas untuk fase grup dan 16 besar.

Selain mengumumkan rancangan untuk pergelaran EURO 2020, UEFA juga mengkonfirmasikan 10 venue untuk Euro 2016 di Prancis. Ke-10 venue tersebut adalah Bordeaux, Lens, Lille, Lyon, Marseille, Nice, Paris, Saint-Denis (Stade de France), Saint-Etienne dan Toulouse. (bln/sam)

Nostalgia yuk !! Dijamin Senyum2 sendiri !!


Ada yang kelahiran tahun 90 an? kalo ada pasti tau barang2 ini ? #dibawah gambarnya


back to 90's
the lil' things called memories 
1. Topi Tersayang : hits banget krn sinetronnya si Anjasmara a.k.a Dion sama si Jihan Fahira a.k.a Mayang! ada 2 warna asli Pink sm Biru yg kW nya warna Creme.

2. Balon Tiup : satu renceng 1000 perak! abis pasta balonnya dipuntel diujung sedotan kuning trus dijilat deh (mitosnya kalo dijilat balonnya bakalan gede) kalo udah gede templokin ke muka temen!

3. Ramalan Cinta : jaman SD kalo ngga ada guru maen ramalan cinta, bakalan nikah sm siapa, nikah dmn dan segala hal yg konyol!

4. Hadiah Tutup Fanta : kalo dulu beli Fanta yg diincer bukan Fanta nya tp kalimat humor lawas yg ditempel dibalik tutupnya itu!

5. Celana Cutbrayy Mamen : gak gaul kalo gak punya celana ini dulu! gak oke kalo ngemall gak pake celana sapu lantai ini sob! asikdah asedap!!

6. Tempat Pensil Tingkat : jaman SD lomba-lomba ke Gramedia biar eksis di kelas pake tempat pensil beginian bahahahaa

7. Jepitan Kupu-Kupu : Buat anak cewe gak kece kalo udah dikuncir 2 gak pake jepitan kupu-kupu yg goyang-goyang dikepala kalo pas jam istirahat lari-larian maen Tak Jongkok! 

8. Orji : "tukeran kertas doooonggg!!!" dikelas sibuk banget nyusunin kertas gambar di Orji dari yg paling favorit sampe kertas yg paling buluk! ga bawa Agenda gapapa asal Orji jgn ketinggalan!!

9. Anak Mas : gak pagi, istirahat kelas, pulang sekolah Anak Mas rasa Keju selalu jd teman sejati! cakep!! 

10. Tazos : hadiah dr Chitos yg lebih sering disebut Tajos!! maen tepokan atau susunan udah paling seru ayeay!!

Ini nih Peralatan makan suku kanibal dulu nih

Kisah soal suku-suku kanibalisme sebelum era modern memang bukan rekaan semata. Bahkan sebuah suku di Fiji punya alat makan khusus saat menyantap daging manusia. Alat makan istimewa tersebut baru-baru ini terjual seharga £ 30.000 di sebuah lelang. 
Harga yang cukup tinggi dikarenakan peninggalan dari abad ke-19. Selain antik, juga mempunyai cerita unik di belakangnya.
Suku di Fiji yang gemar makan daging manusia ini tidak sembarangan menggunakannya. Alat seperti garpu dengan empat jeruji tajam ini hanya boleh digunakan untuk kepala suku. Ketika perang antar suku masih kerap terjadi di masa itu, biasanya korban yang kalah menjadi santapan lezat. 
Tubuh-tubuh inilah yang akan disantap bersama-sama seluruh suku. Namun pembagian daging untuk kepala suku harus menggunakan garpu ini. Panjangnya beragam antara 6 hingga 17 inci.
Garpu-garpu tersebut dipandang sebagai benda suci dan disimpan di dalam sebuah gubuk berasap. Karena garpu itulah yang mewakili kekuatan seorang kepala suku.
ini gambar nya kalo penasaran ...